SALAH DUGA
“ Teng…teng…” bel pulang pun berbunyi. Airin segera menyelesaikan soal TIK dan mengecek kembali lembar jawabannya sebelum ia serahkan kepada pengawas. “ waktu sudah habis, tolong soalnya dikumpulkan kedepan,” kata pengawas. Airinpun dengan sangat yakin meninggalkan ruang kelas itu.
“ Rara…gimana?,”tanya Airin.
“ gimana apanya ?” tanya Rara balik.
“ ya yang jelas soalnya tadi donk?”, “ lo bisa ngerjain nggak?”tanya Airin.
“ so pasti bisa lah, masak semalam suntuk belajar nggak bisa.”
Tanpa Airin sadari, tiba-tiba Alyapun menghampiri mereka, dan menyuruh mereka untuk segera berangkat kerumah Saiful bersama teman-teman. Dari tadi pagi memang teman sekelas Airin ingin berencana takzizah kerumah Saiful, karena kemarin sore ibunya telah kembali kepangkuan Sang Illahi.
Sebelum mereka semua pergi kerumah Saiful, Wulanpun mengusulkan agar teman-teman yang tidak membawa sepeda motor untuk segera berangkat bersama dengan menaiki bus. Airin menaiki bus dengan rombongan yang kedua bersama temannya yaitu Tari, Rara, Mesthi, Eri, Ana, dan teman lainnya yang berjumlah 8 orang.
Di dalam bus mereka semua asyik berbincang-bincang. Ketika bus sudah mulai dekat dengan rumah Saiful, merekapun bersiap-siap untuk meninggalkan tempat duduk mereka.
“ Tari ntar kita semua turun di pertigaan ja gimana?”tanya Rara
“ boleh juga ide kamu, tapi nanti kalau sopirnya nggak mau berhenti dipertigaan gimana?”tanya Tari dengan nada cemas.
Tanpa disengaja Airin mendengar perbincangan antara Rara dan Tari. Ketika bus sudah sampai di perempatan banyak orang-orang yang turun dari bus yang dinaiki Airin dan teman-teman. Karena banyak orang yang berdesakan Airin mengira bahwa teman-temannya sudah turun disitu. Akhirnya Airin pun dengan sangat yakin dan percaya diri ikut-ikutan turun.
“ ehehm…akhirnya sampai juga” kata Airin dengan lega.
Tiba-tiba Airin kaget, “ waduh teman-temanku kok nggak ada?”tanya Airin di dalam hati, sambil tengok kanan kiri.
“ jangan-jangan mereka turun di pertigaan,” gumam Airin.
Dengan sangat terpaksa akhirnya Airin pun melangkahkan kakinya menuju ke pertigaan. Dalam hati, Airin rasanya ingin tertawa sepuasnya, karena dia mengira teman-temannya akan turun di perempatan, e…ternyata instingnya Airin baru eror.
Tanpa Airin sadari, Airin sudah dekat dengan pertigaan. Taripun langsung memanggil Airin untuk segera bergabung dengan teman-temannya.
“ oei…tunggu aku !” kata Airin sambil menuju ke arah teman-temannya dengan langkahnya yang begitu cepat.
“ aduh Rin…Rin…,kamu tu tadi kemana ja sich?”tanya Eri dengan nada cemas.
“ kirain tadi ngilang pakai jurus jitu,” tambah Ana dengan nada ngejek.
“ kalian sich…, katanya mu turun diperempatan. E…malah turun di sini,” kata Airin dengan nada kesal.
Agar kejadian itu tidak ada suatu kesalahpahaman, akhirnya Yayapun menjelaskan kejadian sebelum Airin turun diperempatan kepada teman-temannya. Teman-temanpun langsung paham dengan kejadian awal yang sebenarnya terjadi, sedangkan Airinpun mengakui kalau semua itu hanyalah kesalahan Airin sendiri. Setelah semuanya jelas, dengan langkah kaki yang begitu cepat merekapun melanjutkan perjalanan menuju kerumah Saiful karena mereka sudah ditunggu teman sekelas lainnya yang berangkat lebih awal daripada mereka. Sebelum Airin dan teman-teman rombongan Airin sampai dirumah Saiful, merekapun di jemput anak-anak Osis yang juga ikut takzizah kerumah Saiful, karena rumah Saiful sangat jauh.
Akhirnya Airin dan teman-teman sekelasnyapun sampai di gang menuju kerumah Saiful. Kamipun menuju kerumah Saiful bersama dengan bapak guru dan pengurus Osis dengan rasa bela sungkawa atas kepergian ibunda Saiful.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar